BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hadis tentang pendidikan keluarga dapat ditelusuri ke dalam sejarah dan nilai-nilai yang mendasari budaya dan agama tertentu. Dalam banyak budaya, keluarga dianggap unit dasar masyarakat, di mana nilai-nilai, norma, dan keterampilan penting disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam konteks Islam, pendidikan keluarga diilhami oleh nilai-nilai agama seperti kasih saying, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, moralitas, dan kewajiban orang tua untuk membimbing dan mendidik anak-anak mereka sesuai ajaran agama. Ini mencakup pembelajaran tentang ajaran Islam, akhlak, kebiasaan baik, dan keterampilan praktis yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan yang bermakna dan bertanggung jawab.
Problema yang dihadapi oleh generasi muda masa kini terus berkembang semakin subur. Problema yang dihadapi tersebut merupakan peringatan dini yang akibatnya akan membawa kefatalan yang mengerikan. Maka dari itu agar kesalahan yang fatal tidak terjadi, kita harus membina sejak dari sekarang dimulai dari keluarga kita sendiri tentang pentingnya pendidikan keluarga. Sebagai rujukan kita dapat mengambil dari berbagai nasehat yang telah Rasulullah sampaikan dalam hadis-hadisnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Pendidikan Keluarga?
2. Bagaimanakah Pernyataan Hadis-Hadis Tentang Pendidikan Keluarga?
3. Bagaimanakah Konsep Pendidikan Kontemporer Yang Sesuai Dengan Pendidikan Keluarga?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui Pengertian Pendidikan Keluarga
2. Mengetahui Pernyataan Hadis-Hadis Tentang Pendidikan Keluarga
3. Mengetahui Konsep Pendidikan Kontemporer Yang Sesuai Dengan Hadis-Hadis Pendidikan Keluarga
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendidikan Keluarga
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani, Paedagogy, yang mengandung makna seorang anak yang pergi dan pulang sekolah diantar seorang pelayan. Dalam bahasa Romawi, pendidikan diistilahkan dengan educate yang berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan berarti mengeluarkan sesuatu yang berada di dalam. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diistilahkan to educate yang berarti memperbaiki moral dan melatih intelektual. Sedangkan pengertian keluarga adalah sekelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah, pernikahan, atau adopsi.
Dalam pengertian lain, keluarga merupakan sebuah institusi yang terbentuk karena ikatan perkawinan dengan suatu tekad dan cita-cita untuk membentuk keluarga bahagia dan sejahtera lahir batin. Menurut Kadar M. Yusuf pendidikan keluarga adalah bimbingan atau pembelajaran yang diberikan terhadap anggota dari kumpulan suatu keturunan atau satu tempat tinggal, yang terdiri dari ayah, ibu, anakanak dan lain sebagainya.4 Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan keluarga adalah usaha bersama anggota keluarga terutama orang tua dalam mewujudkan keluarga yang terpenuhi kebutuhan spiritual dan materiilnya, melalui penanaman nilai-nilai keagamaan, sosial budaya, cukup kasih sayang, terpenuhi pendidikan, ekonomi, dan peduli terhadap lingkungan.
B. Hadis Tentang Pendidikan Keluarga
Pendidikan keluarga mencakup seluruh aspek dan melibatkan semua anggota keluarga, mulai dari bapak, ibu dan anak-anak. Namun yang lebih penting adalah pendidikan itu wajib diberikan orang tua (orang dewasa) kepada anak-anaknya. Anak bukanlah sekedar yang terlahir dari tulang sulbi, atau anak cucu keturunan kita saja. Namun termasuk juga anak seluruh orang muslim dimana pun mereka berada atau berasal dari kebangsaan mana pun. Kesemuanya adalah termasuk generasi umat yang menjadi tempat bertumpu harapan kita, untuk dapat mengembalikan kesatuan umat seutuhnya.
Hadis-hadis pendidikan di bawah ini adalah sebagian dari nasehat bapak pendidikan umat Islam Nabi Muhammad SAW, diantaranya:
1. Hadis tentang berbakti kepada ibu-bapak
Artinya: “Dari Abu Hurairota r.a. berkata: Ada seorang laki-laki menghadap kepada Rasulullah SAW lalu ia berkata : Saya berjanji kepada engkau, wahai Rasulullah untuk berhijrah dan berjuang agar mendapatkan pahala dari Allah. Beliau bersabda: Apakah salah seorang dari kedua orang tuamu masih hidup? Laki-laki itu menjawab: Ya, masih. Beliau bersabda pula: Pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu dan dampingilah keduanya dengan baik.” (H.R. Muslim)
2. Hadis tentang tanggung jawab kepala rumah tangga ِ
Artinya: “Aisyah RA menceritakan, bahwa pada suatu kali datanglah Hindun binti ‘Utbah, yaitu isteri Abu Sufyan menemui Rasulullah SAW seraya berkata, “Hai Rasulullah! Abu Sufyan itu ialah laki-laki yang kikir, sehingga tidak diberinya saya nafkah yang memadai untukku, kecuali hanya dengan mengambil hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah saya berdosa dengan begitu?” Jawab Beliau, “Ambillah sebagian hartanya itu dengan niat baik secukupnya yaitu untukmu dan anak-anakmu.” (Mutafaq ‘Alaih)
3. Hadis tentang tugas-tugas istri atau ibu
Artinya: “Dan seorang istri adalah penanggung jawab (pemimpin) di dalam rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya atas tugas dan kewajiban itu.” (HR. Bukhori dan Muslim)
4. Hadis pendidikan terhadap anak
Artinya: “Berkata Mu’ammal ibn Hisyam Ya’ni al Asykuri, berkata Ismail dari Abi Hamzah, berkata Abu Dawud dan dia adalah sawwaru ibn Dawud Abu Hamzah Al Muzanni Al Shoirofi dari Amru ibn Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata, berkata Rasulullah SAW: Suruhlah anakmu melakukan sholat ketika berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka karena mereka meninggalkan sholat ketika berumur sepuluh tahun. Dan pisahlah mereka (anak laki-laki dan perempuan) dari tempat tidur.” (H.R. Abu Dawud)
C. Konsep Pendidikan Kontemporer
Sesuai dengan penjelasan hadis-hadis diatas, maka dapat kita ambil beberapa konsep pendidikan kontemporer yang sesuai dengan hadishadis tentang pendidikan keluarga. Diantaranya seperti penjelasan di bawah ini:
1. Pendidikan tentang berbakti kepada orang tua
Menghormati dan bersikap santun kepada orang tua, diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasa hormat dan santun tidak boleh berkurang kendatipun berbeda agama dengan orang tua itu (bapak-ibu). Agama Islam membedakan antara pergaulan dan akidah. Pergaulan berhubungan dengan sesama manusia, termasuk ibu-bapak. Sedangkan akidah (iman) berhubungan dengan Allah SWT.
Cara berbakti kepada orang tua ibu-bapak di antaranya:
1) Bersikap sopan santun, berkata lemah lembut yang menyejukkan hati keduanya.
2) Perhatikan muka yang jernih bila berhadapan dengan keduanya.
3) Berilah keperluan hidup yang layak.
4) Tempatkan keduanya pada tempat (rumah) yang layak.
Sebagaimana seseorang itu wajib berbakti kepada orang tua semasa mereka masih hidup, maka wajib pula berbakti kepada keduanya sesudah mereka meninggal dunia. Mendoakan orang yang sudah meninggal, dengan istighfar dan memohon ampunan bagi mereka, bersedekah bagi pihak mereka adalah terkandung faedah dan manfaat yang besar bagi orang-orang yang sudah meninggal. Maka, hendaknya setiap orang tidak melalaikan perkara-perkara itu khususnya bagi kedua orang tua-nya, kemudian kepada keluarga dan orang-orang yang telah berbaik budi terhadap kita, dan sesudah itu kepada kaum muslimin sekalian.
2. Pendidikan tentang tanggung jawab kepala rumah tangga
Seorang ayah mempunyai tugas dan kewajiban terhadap anaknya yaitu, mengurus segala hajat dan keperluan mereka manakala membutuhkan. Lebih dari itu, seorang ayah harus mendidik anakanaknya, mengurus segala keperluan hidupnya, membimbingnya kepada akhlak yang terpuji, kelakuan yang baik dan perangai yang mulia, di samping memelihara dan menjauhkan mereka dari perkara-perkara yang sebaliknya. Juga , memuliakan semua perintah dan larangan agama, menyampingkan urusan keduniaan, melebihkan dan mengutamakan urusan akhirat.
Tugasnya yang lain ialah, memberi nama yang baik kepada anaknya, memilihkan istri dari keturunan orang-orang yang berbudi pekerti yang baik dan sholih, agar menjadi ibu yang diberkati oleh anaknya kelak. Hendaklah seorang ayah berlaku adil dalam pemberiannya kepada anak-anaknya. Orang yang mengabaikan pendidikan anak-anaknya sebagaimana tersebut di atas, tidak memperhatikan pengajaran atas mereka, sehingga anak-anak itu mendurhakai mereka dan tidak mengikuti petunjuk ajarannya, maka janganlah ia menyalahkan orang lain selain diri sendiri. Kerugian itu selalu menimpa orang yang alpa dan lalai.
Di zaman ini, terlalu banyak anak-anak yang durhaka dan tidak mau mendengar perkataan ibu-bapaknya tersebar dimana-mana. Apabila kita teliti, penyebabnya tidak lain karena kelalaian ibubapaknya yang telah menyia-nyiakan pemeliharaan anak-anak itu sejak kecil.
3. Pendidikan tentang tugas-tugas istri atau ibu
Tugas-tugas istri ialah fardhu’ain. Para ulama dalam hal ini sepakat, Syaikh Al Ghazali ulama Mesir kontemporer yang sering membela hak-hak perempuan menyatakan: ”Betapapun juga, prinsip dasar yang harus kita ikuti atau kita upayakan agar selalu dekat padanya ialah “rumah”. Saya benar-benar merasa gelisah pada kebiasaan para ibu rumah tangga yang meninggalkan (membiarkan) anak-anaknya tinggal dan diasuh oleh para pembantu atau diserahkan pada tempat penitipan anak. Nafas seorang ibu memiliki pengaruh yang luar biasa dalam menumbuhkan dan memelihara perilaku kebajikan dalam diri anak-anaknya.
Tugas seorang ibu yang paling utama adalah melahirkan, menyusui hingga membesarkan anak. Setelah melahirkan peran ibu sangat dibutuhkan oleh bayi yaitu pemberian ASI yang cukup. Mulai dari mengandung hingga proses menyusui, pendidikan sudah mulai diajarkan. Berdasarkan pandangan yang diteliti, bahwa bayi yang baru lahir khususnya pada hari-hari dan bulan-bulan pertama, akan ditemukan sosok tubuh yang tulangnya masih lemah dan urat-uratnya masih lemas.
Demikianlah, kehidupan kejiwaan akan merekam berbagai isyarat, nada, gerak, profil, gambaran serta wajah. Dari sini akan tampak peranan seorang ibu dalam mewarnai perilaku sang anak. Dia adalah lembaga pendidikan yang pertama, yang mengajar muridnya secara individual. Sedangkan gerak dan kebiasaan keseharian, merupakan mata pelajaran. Pelajaran yang disapaikan oleh sang ibu terhadap anaknya merupakan peletakan batu pertama bagi pondasi kehidupan sang bayi untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
4. Pendidikan terhadap anak
Pengertian hadits tentang pendidikan terhadap anak di atas mengandung pengertian yang sangat dalam dan bermakana luas, lagi mencakup pembahasan yang dimaksud, yakni:
a. Pembahasan tentang kedudukan ibadah dan pengaruhnya sangat besar terhadap pendidikan.
b. Hadits di atas memberi petunjuk dan mengandung hikmah serta tujuan yang sangat dalam.
Secara rasional, ibadah berupa shalat, puasa maupun yang lain, berperan mendidik pribadi manusia hingga kesadaran dan pikirannya terus-menerus berfungsi dalam semua pekerjaan. Pada hakikatnya semua pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, apabila tidak ditimbang dengan neraca keridhaan Allah, maka perbuatan tersebut akan berubah menjadi malapetaka bagi yang melakukannya.
Dengan demikian, diharapkan ia punya kepribadian dan semangat keagamaan yang tinggi. Tujuan mengajarkan wudhu dan menunaikan shalat fardhu pada waktunya, pada dasarnya adalah mengajarkan ketaatan, disiplin, kesucian dan kebersihan. Demikian pula dengan membiasakan anak-anak kecil menunaikan puasa, adalah dalam rangka supaya mereka sabar dalam beribadah dan dalam menghadapi beban-beban kehidupan.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Maka dari penjelasan di atas dapat kami simpulkan bahwa keluarga adalah suatu komponen terkecil dalam suatu bangsa. Apabila dalam bangsa itu terdapat satu keluarga saja yang lemah atau rusak. Maka bangsa itu akan lemah juga. Anak merupakan bagian dari keluarga yang sangat membutuhkan pembinaan dari kedua orang tuanya.
Memberikan contoh yang baik bagi anak-anak mereka dalam perilaku, akhlak dan ibadah. Pentingnya komitmen orang tua terhadap pendidikan anak-anak mereka. Ini termasuk memberikan pendidikan agama, moral, dan akademik yang seimbang serta memberikan perhatian yang cukup terhadap perkembangan anak. Orang tua juga perlu memastikan bahwa pendidikan yang diberikan kepada anakanak mereka tidak hanya untuk sukses di dunia, tetapi juga untuk mempersiapkan mereka untuk kehidupan akhirat. Pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendidik anak-anak. Ini mencakup peran aktif dari kedua orang tua serta peran anggota keluarga lainnya dalam membimbing dan mendukung perkembangan anak-anak.
B. Saran
Makalah ini tentunya masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami sebagai penyususn sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca agar makalah ini dapat diperbaiki secara sempurna dan untuk kedepannya bisa lebih baik lagi.

0 Komentar